Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Harga Solana Turun 60 Persen Sejak Januari, Ini Fakta Mengejutkan di Baliknya!

498
×

Harga Solana Turun 60 Persen Sejak Januari, Ini Fakta Mengejutkan di Baliknya!

Sebarkan artikel ini

Sejak mencapai puncak tertingginya di $261 pada Januari 2025, harga Solana (SOL) turun hampir 60%. Kini, SOL diperdagangkan di bawah level support penting $183, yang kini berubah menjadi resistance.

Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai apakah Solana dapat mempertahankan momentumnya atau justru terus melemah.

Faktor di Balik Kejatuhan SOL

Salah satu alasan utama harga Solana turun adalah berkurangnya euforia di pasar meme coin, yang sebelumnya mendorong lonjakan harga SOL.

Banyak token yang dibuat di jaringan Solana ternyata tidak memiliki utilitas nyata dan sering kali hanya menjadi bagian dari skema pump-and-dump. Akibatnya, setelah hype berkurang, harga SOL ikut anjlok.

Baca Juga :  PT Krakatau Baja Konstruksi Rampungkan Mushola Modular dan Gedung Serba Guna Modular di Tapanuli Selatan

Selain itu, kondisi pasar kripto secara keseluruhan juga mengalami tekanan. Bitcoin saat ini diperdagangkan di sekitar $94.502, sementara Ethereum berada di level $2.630 setelah mengalami penurunan harian 3%. Dengan kondisi ini, investor semakin berhati-hati dalam membeli Solana dan aset kripto lainnya.

Indikator Teknis dan Prospek SOL

Secara teknis, harga SOL USD menunjukkan sinyal oversold dengan Relative Strength Index (RSI) berada di level 28. Hal ini mengindikasikan potensi pullback jangka pendek sebelum kemungkinan penurunan lebih lanjut.

Saat ini, SOL juga diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 50 dan 200 hari, dengan level support berikutnya berada di $135.

Baca Juga :  Kota Metropolitan Terbesar Dunia Membuka Pintu bagi Para Pemimpin Global untuk Menghadirkan Solusi Mendesak bagi SDGs

Skandal Insider Trading dan Harapan Masa Depan

Kritikus menyoroti maraknya insider trading dalam peluncuran meme coin di jaringan Solana. Banyak investor ritel mengalami kerugian besar setelah membeli token yang kemudian dijual oleh pemegang awal dengan harga tinggi.

Namun, meski menghadapi berbagai tantangan, Solana tetap menjadi ekosistem yang menarik bagi pengguna karena kecepatan transaksi dan biaya yang rendah.

Kesimpulan

Menariknya, minat institusional terhadap Solana masih bertahan. Beberapa perusahaan investasi, seperti VanEck dan Bitwise, bahkan telah mengajukan proposal untuk produk berbasis Solana di CBOE.

Baca Juga :  ASEAN-India Bazaar 2026 Perkuat Diplomasi Budaya dan Koneksi Masyarakat Kawasan

Dengan faktor ini, masa depan SOL masih bisa mengalami pergerakan signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Mendengar berita ini, masih tertarikkah kamu untuk beli Solana?

Mengingat potensi dan ekosistemnya yang potensial tak ada salahnya untuk mulai berinvestasi ke Solana. Mulailah membeli Solana atau berinvestasi dalam aset kripto lainnya menggunakan platform terpercaya seperti Bittime. Dengan fitur keamanan tinggi dan kemudahan transaksi, Bittime bisa menjadi pilihan terbaik untuk investasi kripto.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekonomi

Pertumbuhan jumlah investor kripto dan perkembangan teknologi blockchain membuka peluang baru bagi transformasi aset digital di Indonesia. Founder dan CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis,menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aset kripto telah berkembang menjadi bagian dari industri jasa keuangan yang lebih luas. Dalam presentasinya di AWS Summit Jakarta 2026, Yudhono menyampaikan bahwa Indonesia saat ini memiliki lebih dari 20 juta investor aset kripto. Nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang 2025 juga telahmencapai lebih dari Rp400 triliun, sementara sekitar satu dari 14 penduduk Indonesia tercatat telah berinvestasi pada aset kripto. “Ini bukan lagi hanya cerita tentang kripto. Ini sudah menjadi cerita tentang industri jasa keuangan,” ujar Yudho dalam presentasinya di AWS Summit Jakarta 2026 dapa Kamis, 6 Agustus 2026. Menurut Yudho, tingkat penetrasi aset kripto di Indonesia yang masih berada di kisaran 7% menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan industri masih terbuka lebar. Peluang tersebut juga semakin besar seiringberkembangnya stablecoin, tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA), serta integrasi kecerdasan buatan dengan sistem keuangan berbasis blockchain….