Scroll untuk baca artikel
News

Surat Berharga Multifinance Turun, BRI Finance Tetap Jaga Fleksibilitas Pendanaan

45
×

Surat Berharga Multifinance Turun, BRI Finance Tetap Jaga Fleksibilitas Pendanaan

Sebarkan artikel ini

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penerbitan surat berharga multifinance turun 12,71% menjadi Rp62,19 triliun. Di tengah dinamika suku bunga, kondisi tersebut tidak serta-merta mencerminkan penurunan kebutuhan pendanaan perusahaan pembiayaan. Kebutuhan pendanaan tetap berjalan seiring dengan kebutuhan ekspansi dan refinancing.

PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) mengungkap sejumlah alternatif sumber pendanaan yang dapat disesuaikan dengan kondisi pasar dan kebutuhan perusahaan. Saat ini, pendanaan perbankan masih mendominasi industri multifinance karena cenderung lebih fleksibel terhadap kebutuhan likuiditas harian, dengan proses dan biaya administrasi yang relatif lebih cepat dan lebih rendah dibandingkan penerbitan surat berharga.

Baca Juga :  Langkat Tak Bisa Hilangkan dari Label Korupsi, Disdik Paling Top

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan perubahan pada penerbitan surat berharga lebih mencerminkan penyesuaian strategi perusahaan dalam menentukan komposisi sumber pendanaan dan waktu yang tepat untuk melakukan pendanaan.

“Penurunan penerbitan surat berharga tidak dapat dikatakan karena penurunan kebutuhan pendanaan. Hal ini tercermin dari data OJK bahwa piutang pembiayaan multifinance Juli 2026 masih tumbuh 2,01%. Yang terjadi saat ini adalah adanya perubahan strategi pendanaan perusahaan dalam komposisi dan waktu yang tepat untuk melakukan pendanaan,” ujar Dhani.

Baca Juga :  Mencari Bibit Unggul Binaragawan, Kodim 1503 Tual Gelar Body Contes Se-Maluku Tenggara

Menurutnya, keputusan penerbitan surat berharga mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari biaya dana atau yield di pasar, kondisi pasar, appetite investor, hingga kebutuhan ekspansi dan refinancing. Terlebih, BI Rate yang sempat mengalami penurunan pada akhir 2025 kembali mengalami peningkatan pada Juni 2026.

“Di tengah peningkatan suku bunga saat ini dan ekspektasi imbal hasil surat berharga yang tinggi dari investor, perusahaan memilih untuk menggunakan sumber pendanaan lain, salah satunya dari fasilitas perbankan, dengan suku bunga yang lebih fleksibel dan negotiable,” jelas Dhani.

Baca Juga :  PMK Sumber Waras Diduga Buang Limbah Sembarangan, LSM Petisi : DLH Harus Turun

Meski demikian, BRI Finance tetap melihat peluang di pasar obligasi. Perusahaan masih memiliki sisa plafon Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) sebesar Rp1 triliun yang akan digunakan pada periode 2027. Pemanfaatannya akan mempertimbangkan kondisi pasar dan kebutuhan ekspansi perusahaan.

 

 

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

Mutu baja tulangan beton sangat penting untuk menjaga kekuatan dan keamanan bangunan saat gempa. Pemilihan distributor besi beton terpercaya dengan dokumen mutu yang jelas membantu mengurangi risiko kerusakan struktur. Setiap…