Lensa Mata Medan – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Dr. H. Sugiat Santoso, SE., SH.,M.SP, menguraikan tiga ranah pendidikan yang penting dalam membentuk generasi muda yang cerdas, terampil, dan berkarakter di era digital.
Pernyataan itu disampaikannya dalam kegiatan Literasi Digital Berbasis Moderasi, diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara di Andaliman Hall, Medan, Selasa (20/10/2026).13
Sugiat Santoso yang juga Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra ini menjelaskan bahwa tiga ranah pendidikan tersebut meliputi afektif, kognitif, dan psikomotorik. Ranah afektif berkaitan dengan sikap dan karakter, kognitif berhubungan dengan pengetahuan, sedangkan psikomotorik mencakup keterampilan.
Menurutnya, ketiga ranah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan literasi digital. Di tengah derasnya arus informasi di internet dan media sosial, generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus mampu memahami informasi, menilai kebenarannya, serta bersikap bijak ketika berinteraksi di ruang digital.
“Ranah kognitif diperlukan agar mampu berpikir kritis dan membedakan hoaks serta konten ekstremisme. Ranah afektif membentuk karakter, toleransi, dan sikap moderat. Sementara ranah psikomotorik adalah keterampilan memanfaatkan teknologi secara positif dan menghasilkan konten yang bermanfaat,” ujar Sugiat.
“Pembentukan mental dan karakter perlu menjadi perhatian dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan,” tegas Sekretaris DPD Partai Gerindra Sumut ini.
Sugiat Santoso mencontohkan Jepang sebagai negara dengan kedisiplinan tinggi serta budaya menghormati sesama.
Nilai-nilai tersebut, menurutnya dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam membangun generasi muda yang unggul tidak hanya dalam pengetahuan, tetapi juga karakter.
*Perkuat Peran Guru Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar*
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, dimulai Selasa (20/10/2026) hingga Rabu (21/10/2026) ini diikuti lebih dari 250 peserta yang terdiri dari guru SMP, MTs, SMA, MA, serta ustaz dan ustazah pondok pesantren di Sumut. Fokusnya adalah memperkuat peran guru dalam mencegah penyebaran paham kekerasan dan radikalisme di kalangan pelajar, menyusul meningkatnya konten kekerasan, ujaran kebencian, intoleransi, dan propaganda ekstremisme di ruang digital.
Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Irjen Pol Wawan Ridwan, menyatakan guru memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter, menanamkan nilai kebangsaan, serta menjadi teladan bagi peserta didik, terlebih karena proses belajar anak kini juga berlangsung melalui platform digital.
Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumatera Utara melalui Kabid Wawasan Kebangsaan dan Penanganan Konflik, Emir Mahbob Lubis, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai literasi digital berbasis moderasi penting untuk memperkuat wawasan kebangsaan di tengah peluang penyebaran radikalisme di ruang digital.
Ketua FKPT Sumatera Utara, Prof. Arifuddin Muda Harahap, M.Hum, berharap keterlibatan para guru dapat membantu menekan kekerasan dan ekstremisme di kalangan siswa. Ia mengajak seluruh peserta menyatukan komitmen untuk menjaga masa depan generasi muda Sumatera Utara melalui pendidikan yang menanamkan nilai kebangsaan, toleransi, dan moderasi.
Selanjutnya, Sugiat Santoso menekankan, literasi digital perlu diimbangi dengan penguatan moderasi. Kemampuan mengakses dan menyebarkan informasi harus disertai tanggung jawab, sikap kritis, serta penghormatan terhadap perbedaan, agar ruang digital dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan dan mencegah penyebaran paham radikal.












