Scroll untuk baca artikel

News

Buntut Kasus Tewasnya Taruna di STIP, Peradah DKI Jakarta Minta Kemenhub Evaluasi dan Usut Tuntas

826
×

Buntut Kasus Tewasnya Taruna di STIP, Peradah DKI Jakarta Minta Kemenhub Evaluasi dan Usut Tuntas

Sebarkan artikel ini
Ketua DPP Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) DKI Jakarta, Bryan Pasek Mahararta

Lensa Mata Jakarta – Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (PERADAH) DKI Jakarta meminta usut tuntas kepastian hukum terkait adanya korban kekerasan yang terjadi di lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.

Sebelumnya, seorang taruna STIP berinisial P (19) dikabarkan meninggal dunia dengan kondisi tubuh mengalami kekerasan, pada Jumat, 03/05/2024. Muncul dugaan P merupakan korban penganiayaan oleh senior.

Ketua DPP Peradah DKI Jakarta, Bryan Pasek Mahararta, pada Sabtu (04/05/2024), mengungkapkan mengungkapkan kepada media bahwa mengaku telah berkomunikasi dan melakukan koordinasi dengan beberapa pihak. Ia memastikan akan terus mengawal dan meminta usut tuntas agar tidak lagi terjadi kasus serupa.

Baca Juga :  Ketua PPIH Medan: Pelayanan, Pembinaan, dan Perlindungan Tamu Allah Kewajiban Negara

“Sampai hari ini, saya terus berkomunikasi dan koordinasi dengan beberapa pihak. Kami sangat menyayangkan hal bodoh dan gak berguna seperti ini sampai terjadi”, ujarnya.

Selain itu, Bryan menyampaikan bahwa bantuan advokasi hukum juga akan dioptimalkan supaya kepastian dan keadilan hukum harus berpihak pada korban terlepas apapun latar belakang pelaku.

“Seharusnya, STIP menjadi simbol intelektual negara pada masyarakat, tentu aksi kekerasan senioritas ini sangat bertolak belakang dengan budaya intelektualitas”, ungkapnya.

Bryan menambahkan bahwa di lain sisi, pihak STIP mengungkapkan sudah tidak pernah lagi ada kasus perpeloncoan dan senioritas. Namun, kejadian ini membuka kembali kasus penganiayaan antar taruna yang pernah terjadi di kampus STIP.

Baca Juga :  Polisi dan Sipil Beda Nasib di Perdagangan Sisik Trenggiling Asahan, LP3 : Copot Pejabat di Balai Gakkum KLHK Sumatera

“Kami menuntut Kementerian Perhubungan untuk segera evaluasi dan tanggungjawab atas kasus penganiayaan di STIP. Kalau hal seperti ini masih terjadi, itu artinya Negara telah gagal dan melakukan pembiaran”, tutupnya.

Sementara itu, dikutip dari ungkapan hati paman korban bernama Nyoman Budi Arto kepada media di Jakarta, pada Sabtu,04/05/2024, Ia menyatakan akan menuntut pertanggungjawaban pihak kampus karena membiarkan peristiwa ini terjadi.

“Saya mau tuntut yang memukul itu sama pihak sekolah, anak saya sehat-sehat saja tiba-tiba meninggal dunia,” unyarnya.

Baca Juga :  WKI Sumut Dukung Sosok Muda Mendunia Jeka Saragih Tarung di Pilbup Simalungun

Nyoman meminta pertanggungjawaban kampus atas kejadian yang menghilangkan nyawa dari keluarganya dan meminta pelaku dihukum berat sesuai dengan perbuatannya

“Saya punya anak dibegitukan, seandainya juga dia punya anak digituin juga bagaimana, saya akan tuntut pihak kampus,” tegasnya.

Nyoman mengatakan pihak STIP menghubungi dirinya pada Jumat pagi sekitar pukul 09.00 WIB yang memberitahukan taruna tingkat satu angkatan 2023 berinisial P meninggal dunia. P merupakan anak pertama dari tiga saudara yang masuk sebagai taruna sekolah yang berada di bawah Kementerian Perhubungan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *