Scroll untuk baca artikel
News

Tawuran di Belawan: Akar Masalah dari Putus Sekolah, Pengangguran, hingga Minimnya Peran Sosial

527
×

Tawuran di Belawan: Akar Masalah dari Putus Sekolah, Pengangguran, hingga Minimnya Peran Sosial

Sebarkan artikel ini

Lensa Mata Medan – Fenomena tawuran yang kerap terjadi di kawasan Belawan, Kota Medan, kembali menjadi sorotan. Taufik CHT CI, seorang praktisi hypnotherapy sekaligus Sekretaris Umum Lembaga Rehabilitasi Narkoba LRPPN Bhayangkara Indonesia, terkait maraknya konflik sosial di wilayah pesisir tersebut.

Menurut Taufik, tawuran yang terjadi bukanlah insiden spontan, melainkan gejala dari persoalan sosial yang mengakar. Dalam laporannya, setidaknya ada tiga aspek utama yang menjadi pemicu meningkatnya kekerasan di kalangan remaja Belawan: pendidikan, pekerjaan, dan lemahnya peran organisasi kemasyarakatan (ormas).

Tingginya Angka Putus Sekolah
Belawan mencatat sekitar 1.500 kasus anak putus sekolah pada tahun 2021. Minimnya akses terhadap pendidikan, baik formal maupun informal, menyebabkan remaja kehilangan wadah pembinaan moral dan arah hidup. Akibatnya, mereka kerap mencari jati diri melalui pergaulan bebas hingga aksi kekerasan jalanan.

Baca Juga :  Sengketa Lahan Rumah Makan Bebek Sinjay yang Sempat Viral, Ini Jawaban Dari H. Muhaimin Selaku Penyewa

Lapangan Kerja yang Tidak Merata
Padahal Belawan adalah pelabuhan utama di Sumatera Utara, namun ironisnya hanya sekitar 1% warga lokal yang terserap dalam sektor industri di wilayah tersebut. “Stigma bahwa pemuda Belawan malas dan sulit diatur menjadi penghambat besar keterlibatan mereka di sektor formal,” jelas Taufik, Rabu (7/5/2025).

Baca Juga :  Bupati Segera Kembangkan Tanaman Durian di Pakpak Bharat

Ketiadaan aktivitas produktif mendorong frustrasi kolektif yang berujung pada tawuran.

Lemahnya Peran Ormas dan Tokoh Masyarakat

Kurangnya keterlibatan aktif tokoh masyarakat dan ormas dalam pembinaan remaja turut memperburuk situasi. “Ada kekosongan kepemimpinan lokal yang bisa dijadikan panutan,” tambahnya.

Hal Ini Bisa Menjadi Bahan Kajian Bagi Pemerintah Untuk menyikapi Permasalahan Yang terjadi dibelawan:
1. Bidang Pendidikan: Pengadaan pelatihan keterampilan dan program konseling berbasis komunitas bagi remaja putus sekolah.

Baca Juga :  Demi Jabatan Bendahara Kemenag RI Kabupaten Nias Selatan, Oknum Guru Sekolah MIN 2 Nisel di Pulau Tello Diduga Dipaksakan untuk Menandatangani Absensinya

2. Bidang Pekerjaan: Pelatihan kerja dan pembukaan akses kerja bagi pemuda lokal di sektor industri pelabuhan.

3.Peran Sosial: Penguatan ormas dalam kegiatan positif remaja serta pelibatan tokoh masyarakat sebagai mediator konflik dan agen perdamaian.

Taufik menegaskan bahwa penyelesaian masalah tawuran di Belawan harus menyasar akar persoalan, bukan hanya menangani efeknya. “Kita tidak bisa hanya mengutuk aksi kekerasannya saja, tapi harus membenahi sistem sosial yang melahirkannya,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *