Scroll untuk baca artikel
News

Ratusan Pustaha Batak Tersebar di Dalam dan Luar Negeri, BRIN Bangun Data Raya Digital

42
×

Ratusan Pustaha Batak Tersebar di Dalam dan Luar Negeri, BRIN Bangun Data Raya Digital

Sebarkan artikel ini

Lensa Mata Jakarta – Ribuan pustaha Batak yang selama lebih dari satu abad tersebar di berbagai museum, perpustakaan, dan koleksi pribadi di dalam maupun luar negeri kini mulai ditelusuri dan didokumentasikan secara digital, Selasa (18/8/2026).

Upaya tersebut dilakukan melalui riset Digitisasi Pustaha Batak dan Penyusunan Data Raya Digital oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pustaha merupakan buku tradisional masyarakat Batak yang memuat beragam pengetahuan, mulai dari pengobatan, pertanian, ekonomi, hukum, hingga ritual religi.

Namun, sebagian besar pustaha ditulis menggunakan hata poda, bentuk bahasa akademik kuno yang kini tidak lagi dipahami oleh masyarakat Batak modern. Kondisi fisik pustaha yang terbuat dari kayu alim juga rentan mengalami kerusakan apabila tidak dirawat dengan baik

Pustaha Batak tidak hanya menyimpan pengetahuan tradisional tentang pengobatan, pertanian, hukum, ekonomi, dan ritual, tetapi juga mengungkap jejak panjang tradisi intelektual masyarakat Batak.

Hasil penelitian Digitisasi Pustaha Batak dan Penyusunan Data Raya Digital menunjukkan adanya kesinambungan tradisi literasi di Sumatera yang berlangsung lebih dari 1.300 tahun.

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan, BRIN, tersebut diarahkan untuk membangun Data Raya Digital Pustaha Batak melalui pengumpulan, standardisasi, dan integrasi data pustaha dari berbagai koleksi di dalam maupun luar negeri.

Baca Juga :  Wali kota Medan Siap Kirim Dua Unit Buggy Car Untuk palayanan Calhaj Lansia di Ahmed Embarkasi Medan

Basis data ini dikembangkan sebagai infrastruktur penelitian yang dapat dimanfaatkan untuk kajian arkeologi, filologi, antropologi, sejarah seni, konservasi, hingga desain.

Periset Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, Lolita Tobing, mengatakan penelitian tersebut memberikan perspektif baru mengenai posisi tradisi literasi Batak dalam sejarah intelektual Nusantara.

“Lebih dari itu, penelitian ini membuka perspektif baru mengenai adanya kesinambungan, baik secara aksara maupun bahasa, antara tradisi literasi Batak dan tradisi literasi Sumatera yang telah berlangsung selama lebih dari 1.300 tahun, serta menempatkan tradisi literasi Batak sebagai salah satu bagian penting dalam sejarah intelektual Nusantara,” kata Lolita Tobing.

Paparan penelitian menunjukkan adanya jaringan cendekiawan kuno yang disebut Hadatuon. Jaringan tersebut berperan dalam menjaga kesinambungan tradisi literasi, mengembangkan pengetahuan, serta mentransmisikannya melalui hubungan antara datu sebagai praktisi ilmu, guru sebagai pengajar, dan sisean sebagai murid.

Hadatuon juga menunjukkan adanya spesialisasi keilmuan. Di dalamnya terdapat datu panaluan dalam bidang medis, datu parmangmang dan partonggo untuk mantra dan ritual, datu parsinuan dalam pengajaran, datu parmangsi di lopian dalam literasi dan penyalinan pustaha, serta datu panusur di bisara na godang yang berkaitan dengan hukum adat.

Baca Juga :  Kejati Papua Barat Ungkap Peredaran Rokok Ilegal

Temuan lain menunjukkan bahwa pustaha mencatat mekanisme pewarisan pengetahuan yang menyerupai praktik sitasi dalam sistem akademik modern. Para datu tidak hanya mencatat pengetahuan, tetapi juga menyebut guru, gelar Hadatuon, dan asal guru sebagai otoritas keilmuan. Hal ini menunjukkan adanya mekanisme produksi, validasi, dan pewarisan pengetahuan melalui jaringan guru dan murid.

Data Raya Digital menjadi penting karena pustaha Batak kini tersebar di berbagai lokasi. Hingga tahap penelitian saat ini, sebanyak 152 pustaha telah didigitisasi dari sekitar 515 koleksi yang teridentifikasi, atau sekitar 29,5 persen.

Koleksi tersebut berasal antara lain dari Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Perpustakaan Leiden, dan Wereldmuseum Amsterdam.

Di luar Indonesia, paparan penelitian juga mencatat ratusan koleksi pustaha yang tersimpan di berbagai lembaga, antara lain Centre for the Study of Manuscript Cultures Universitas Hamburg, John Rylands Library, British Library, Museum Bronbeek, Bibliothèque Nationale de France, serta National Museum & Royal Library Copenhagen.

Menurut Lolita, upaya tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa kolaborasi lintas lembaga. Penelitian melibatkan BRIN, Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara/Program Studi Sastra Batak, Wereldmuseum Amsterdam, NWO, dan Kementerian Kebudayaan.

Baca Juga :  Bawaslu Sumut Kolaborasi Kelompok Cipayung, Kolega & Media Awasi Netralitas ASN Tolak Politik Uang di Simalungun

“Penelitian ini terlaksana melalui kolaborasi lintas lembaga. Terima kasih kepada seluruh mitra yang telah mendukung upaya pelestarian warisan intelektual Batak,” ujar Lolita.

Digitalisasi dilakukan tidak sekadar untuk membuat salinan visual pustaha. Tim juga mengembangkan standar metadata yang mencakup informasi kodikologi, filologi, ikonografi, material, teknik pembuatan, asal-usul koleksi, serta kondisi pelestariannya.

Data tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan riset warisan budaya berbasis teknologi, termasuk kecerdasan buatan, pengenalan aksara, analisis motif, dan pelestarian digital.

Di sisi lain, proses membaca pustaha menghadapi tantangan karena naskah menggunakan aksara dan tata bahasa Batak Kuno dengan terminologi yang tidak lagi digunakan dalam bahasa Batak modern.

Sejumlah pustaha juga masih berada dalam koleksi keluarga atau kolektor pribadi, sementara kondisi fisiknya rentan mengalami kerusakan akibat kelembapan, serangga, maupun penyimpanan yang kurang memadai.

Karena itu, digitalisasi menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga akses terhadap pengetahuan yang tersimpan dalam pustaha sekaligus membuka peluang penelitian lebih luas.

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menyelamatkan naskah sebagai artefak, tetapi juga menghidupkan kembali pengetahuan dan tradisi intelektual yang terkandung di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *